Selasa, 16 Oktober 2012

love at first sight

dua anak manusia berdiri tersipu, satu memakai rok biru yang lain celana abu-abu. duduk bertopang dagu, entah apa yang mereka tunggu. terjebak di atas sebuah bangku batu, di sudut jalan yang sepi tak mengadu.

poni menutupi dahi si mungil, dibalik matanya yang cerah melirik centil, seuntai jepit menghias rambutnya yang diterbangkan angin jahil.
tas selempang disandang, sepatu keds menendang, sambil menggulung celana panjang, melepas pandang ke hujan yang jarang-jarang.

mendadak turun hujan di halte itu.

si mungil menatap gusar, meraba jam tangan yang tak melar, menahan perut mungkin lapar, menoleh ke samping dan tersenyum tak lebar, sepatu ketsnya mulai terpercik pasir kasar.
“yaah, hujan ya?”

yang bercelana abu-abu ikut menyungging senyum. alis beriring di atas matanya yang melamun. dilepasnya dari telinga denting musik mengalun. menangkap wangi bunga mekar tertunduk anggun.
“iya, hujan nih..”

di sana,
langit menumpahkan airnya. angin menghembuskan desaunya. hutan gembira. basah di mana-mana. bunga-bunga ceria. orang-orang berteduh di tempat sedapatnya. ojek payung berkeliaran menawarkan jasa. ada juga yang berteriak tersiksa, karena atap bocor tak kunjung diperiksa. sesekali terdengar petir membahana, yang diawali oleh kilat yang menyala.

di sini,
dua anak manusia berseri, walaupun ketemu baru sekali. mereka mengobrol mengungkap hati, bersandar pada tiang karat di sana sini, bercengkrama dengan hujan tanpa harus meratapi. percik air menerpa dianggap sepi, juga kilat dan guntur berganti-ganti.

satu jam bagai berbulan-bulan, seperti sudah kenal sejak dalam buaian. meriuh canda dan tenggelam. adakah waktu menjadi penghalang, jika mereka baru dipertemukan sekarang?

tiba-tiba hujan berhenti, di langit sana terbias matahari, dan seperti mendengar kata hati, terbit pelangi. dan cerita ini, sulit rasanya ingin diakhiri…

yaser alkatani 16,oktober,2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar